Pendidikan Inklusif Pendidikan yang Ramah untuk Semua

Ditulis Desember 17, 2012 oleh rozarumaisho
Kategori: Uncategorized

Tanggal 13 Desember 2012 kami mendapat kesempatan hadir pada acara seminar tentang Seminar Pengembangan Pendidikan Inklusif di Kabupaten Rembang; Mewujudkan Pendidikan untuk Semua (Dalam Rangka Perayaan Hari Internasional Penyandang Disabilitas) yang  diselenggarakan oleh PLAN Rembang, sebuah LSM yang bergerak dibidang permasalahan anak. Hadir sebagai pembicara yaitu Budi Hermawan, M.Phil dengan materi Sistem dukungan dalam pendidikan bagi anak penyandang disabilitas dan Sukotjo dengan materi Peranan Pusat Sumber dalam Mendukung Pendidikan Inklusif. Kami sendiri hadir sebagai orang tua dengan anak gangguan pendengaran yang telah menyekolahkan anaknya di sekolah regular. Tujuan dari Seminar itu yaitu Membangun Kesepahaman Stakeholder di Kabupaten Rembang untuk mendukung implementasi Non Deskriminasi dalam Pendidikan Anak. Peserta yang hadir terdiri Para pengambil kebijakan Dina Pendidikan Rembang, Pelaksana Kepala Sekolah dan Guru se Kabupaten Rembang dan Komite Orang tua.

 

Dalam Materi yang di sampaikan oleh Bapak Sukotjo “Peranan Pusat Sumber dalam Mendukung Pendidikan Inklusif”

Dibahas tentang Kekuatan SLB dalam pelayanan pendidikan ABK yaitu :

  • Pendidikan guru sesuai dengan kebutuhan khusus siswa
  • Perlengkapan pendidikan menunjang
  • Kurikulum yang mengadaptasi kebutuhan pendidikan khusus siswa

 

Kekuatan Sekolah Reguler

  • Dekat dengan tempat tinggal siswa
  • Keadaan siswa heterogen layaknya “lingkungan masyarakat”   sekolah   bentuk kecil masyarakat

 

Dalam pelayanan pendidikan ABK

SLB

  • Lingkungan pergaulan terbatas
  • Kemungkinan sekolah  jauh dari tempat tinggal siswa
  • Biaya tidak murah

Sekolah reguler

  • Guru kurang dipersiapkan menghadapi siswa berkebutuhan khusus
  • Kurikulum kurang mengadopsi kebutuhan siswa

Guna mensukseskan wajib belajar bagi anak berkebutuhan khusus SLB dan Sekolah reguler harus bekerja sama agar anak dapat bersekolah sedekat mungkin dari rumah.  Hal itu akan menekan biaya pendidikan , siswa tidak lelah, dan anak dapat bersosialisasi dengan wajar. Sehingga dapat dikembangkan

  • Sekolah reguler yang inklusif
  • Sekolah Khusus/SLB menjadi pendukung pendidikan inklusi
  • Pusat Sumber Pendidikan Inklusif merupakan institusi/lembaga/organisasi yang diselenggarakan oleh pemerintah atau masyarakat yang memberikan layanan dukungan bagi sekolah-sekolah dan masyarakat secara luas dalam melaksanakan pendidikan inklusif.

Tugas Pokok dan Fungsi Pusat Sumber

  • Umum
  1. Memberikan dukungan profesional terhadap sekolah-sekolah.
  2. Menyediakan layanan informasi dan konsultasi
  3. Menyediakan layanan identifikasi dan asesmen
  4. Melakukan penelitian dan pengembangan dalam meningkatkan layanan pendidikan inklusif
  • Merencanakan dan melaksanakan jejaring yang saling menguntungkan dengan berbagai pihak.

Layanan teknis

  1. Melaksanakan pelatihan untuk persiapan pelaksanaan pendididkan inklusif (Pelatihan Guru, Orang tua, peserta didik)
  2. Menyiapkan alat bantu serta media belajar dan mengajar yang disesuaikan.
  3. Menyiapkan peserta didik, orang tua, guru, dan masyarakat sebelum pelaksanaan
  4. Merencanakan dan melaksanakan lingkungan pendidikan yang ramah bagi setiap anak. 
  5. Melaksanakan kursus-kursus keakhlian untuk guru-guru pembimbing khusus.
  6. Menyediakan dan mengatur penempatan tugas guru pembimbing khusus.
  • Advokasi

Memperkuat pusat  mendukung Pusat Sumber

  • Peningkatan  Sumber Daya Manusia:
  • Pemahaman tentang pelayanan ABK di sekolah inklusi
  • Jumlah tenaga kependidikan  yang akan berperan sebagai tim pengembang inklusi di wilayah dan guru pembimbing khusus
  • Kelengkapan sarana-prasarana pendidikan khusus
  • Pengembangan jaringan kerja sama dengan Pusat Sumber, Pendukung Pusat Sumber,  Instansi dan lembaga pendukung
  • Pengembagan jarigan dengan sekolah-sekolah reguler yang telah menjadi sekolah inklusif maupun belum

Materi yang disampaikan Bapak  Budi Hermawan, M.Phil “Sistem dukungan dalam pendidikan bagi anak penyandang disabilitas”

Yang dimaksud dengan dukungan adalah Dukungan mencakup segala sesuatu yang memungkinkan anak dapat belajar. Dukungan ini mencakup sumber-sumber yang melengkapi apa-apa yang telah disediakan oleh guru kelas (Sunanto, 2012)

Yang dimaksud Pendidikan Inklusif :

  • Lebih luas daripada pendidikan formal: mencakup pendidikan di  rumah, masyarakat, sistem nonformal dan informal
  • Mengakui bahwa semua anak dapat belajar
  • Memungkinkan struktur, sistem, dan metodologi pendidikan memenuhi kebutuhan semua anak
  • Mengakui dan menghargai berbagai perbedaan pada diri anak: Usia, jender, etnik, bahasa, kecacatan, status HIV/AIDS dll
  • Merupakan proses yang dinamis yang senantiasa berkembang  sesuai dengan budaya dan koteksnya
  • Merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk  mempromosikan masyarakat yang inklusif

(Seminar Aqra, 1998)

Proses  Dukungan

  1. Memberdayakan dukungan di dalam dan sekitar sekolah
  • Anak mendukung anak, artinya setiap murid yang ada dikondisikan untuk menjadi teman dan partner bagi  ABK,dengan tidak mengucilkan dan memandang aneh ABK.
  • Guru mendukung guru, artinya guru yang memahami cara menangani ABK akan memberikan pelatihan bagi guru yang lainnya. Sehingga semua guru memahami bagaimana mendidik ABK.
  • Orang tua sebagai partner, artinya menjalin komunikasi dengan orang tua ABK tentang  proses belajar putranya. Serta komunikasi dan dukungan orang tua lain guna menunjang proses belajar mengajar dan kenyamanan pergaulan di sekolah.

 

  1. Membangun dukungan untuk sekolah dari  komunitas
  • Tim berbasis sekolah
  • Pelayanan kunjungan
  • Bekerjasama dengan SLB
  • Membangun pusat sumber
  • Pendidikan tambahan
  1. Mengembangkan dukungan dengan layanan holistik

Pendidikan Inklusif merupakan pendidikan yang ramah, anak belajar disesuaikan dengan tingkat kemampuan anak tersebut. Kurikulum yang ada bisa disampaikan secara fleksibel, menarik dan mengena pada peserta didik. 

Pendidikan Oral Dengan MMR

Ditulis Oktober 21, 2010 oleh rozarumaisho
Kategori: habilitasi awal

Materi yang disampaikan oleh Sr. Antonie Ardatin pada pelatihan peningkatan guru SLB di Universitas Sanata Dharma tanggal 18 oktober 2010.

MMR atau metode materna Refleksi yaitu metode yang merefleksikan bahasa ibu kepada anak gangguan dengar. Pada saat bayi, anak belajar bahasa dari ibu dimana dia belajar melalui mengamati, mendengar hingga bisa meniru apa yang ibunya katakan setiap hari dan berulang-ulang. Misalnya pada saat bayi menangis ibu akan mencari tahu penyebab tangisannya. ketika di periksa ternyata mengompol, ibu akan berkata “oo kamu mengompol ayao ganti popok” disitulah bayi akan merefleksikan berarti kalau popok saya basah artinya mengompol. Pada saat mengoceh dia mengeluarkan suara mamamama, babababa, papappapa. pada saat dia mengcap mammama, sang ibu selalu datang akhirnya bayi itu berpikir ooo itu mama. Begitulah seterusnya cara belajar bayi untuk mereflksikan bahasa ibunya.

Disini dibahas juaga tentang kapan menjadi tuli

  1. Tunarungu prae-lingual jika anak mengalami gangguan dengar dari usia 0,0 hingga 1,6 bulan. Disini anak sama sekali tidak mengenal bahasa karena tidak mendengar apa yang disampaikan orang disekelilingnya
  2. Tunarungu in-lingual jika anak mengalami gangguan dengar dari usia 1,6 bulan hingga 4 tahun. Anak sudah mulai belajar berbahasa walaupun dengan jumlah kosakata yang masih belum banyak
  3. Tunarungu post-lingual jika anak mengalami gangguan dengar setelah umur 4 tahun. Anak sudah banyak memiliki kosa kata dan sudah bisa berbicara dengan baik.

Pada anak gangguan dengar prae dan in-lingual dilakukan terapi bahasa dan terapi wicara. Pada terapi bahasa dilakukan percakapan yang bebas yaitu dimana materi yang akan dibahas spontan dari anak-anak tinggal ortu dan guru yang melengkapinya, pada suasana yang tidak formal, terbuka dan ramah. Jadi ketikanaka belajar bukan pada kondisi tegang ataupun tertekan, anak merasa nyaman senang dalam proses belajar berlangsung. Dibantu dengan alat peraga dan contoh yang mudah dipahami anak.

Bahasa dipelajari dalam situasi percakapan

  • Seperti percakapan ibu/ayah dengan bayi
  • Inisiatif anak mendapat tempat utama
  • Termotivasi bercakap terus karena ada tanggapan
  • Dibimbing oleh naluri

Sikap wicara dalam percakapan

  • Saling mendengarkan dimana antara anak dan ortu atau guru saling bergantian bergantian dalam berbicara
  • Timbal balik terjadi komunikasi dua arah tanpa instruksi dari guru atau ortu
  • Santai-terbuka-ramah, bercakap dengan perasaan senang sehingga materi percakapan yang didapat mudah diingat anak
  • Tatap wajah

memanfaatkan saat yang tepat selama proses belajar bahasa

  • Sesuai dengan minat dan kebutuhan anak
  • membahasakan peristiwa/kejadian
  • membahasakan perasaan
  • menperkembangkan bahasa-budaya
  • memperkembangkan pengetahuan

Jika uangkapan yang dipelajari tidak jelas dapat mempergunakan alat bantu atau peraga

  • Membuat gambar
  • Menuliskan
  • Memperagakan
  • Melihat ke tempat kejadian

Pengajaran dapat juga dengan menggunakan bahan bacaan, anak-anak membaca secara teknis sesuai dengan kelompok kata, titik dan koma dengan ucapan yang benar serta membaca sejati, membaca dalam hati untuk memahami isi dari bacaannya. Dilanjutkan dengan mempercakapkan isi bacaan untuk mengetahui apakah anak-anak memahami isi bacaan. Apakah anak-anak dapat memahami kata baru melalui konteks-tanpa penjelasan guru. Penerapan latihan bagi muris untuk menerapkan istilah, kata baru atau pengetahuan baru yang baru saja diperolehnya dalam konteks yang berbeda.

Mengembangkan percakapan menjadi bacaan dengan cara

  • memikirkan alternatif pengembangan, mau dibawa kemana percakapan yang dilakukan
  • Ke arah IPS, IPA, Perluasan Bahasa, Budaya/pranata sosial ?
  • Menyusun bacaan tersebut no. 2 dengan mengembangkan penggunaan kosa kata baru.

Percakapan reflektif linguitis dalam bentuk

  • Morfem, adalah satuan bentuk terkecil dalam sebuah bahasa yang masih memiliki arti dan tidak bisa dibagi menjadi satuan yang lebih kecil lagi.
  • Sintaksis merupakan tata bahasa yang membahas hubungan antarkata dalam tuturan. Sama halnya dengan morfologi, akan tetapi morfologi menyangkut struktur gramatikal di dalam kata.

Unsur bahasa yang termasuk di dalam sintaksis adalah frase, kalusa,dan kalimat
Tuturan dalam hal ini menyangkut apa yang dituturkan orang dalam bentuk kalimat. Kalimat merupakan satuan atau deretan kata-kata yang memiliki intonasi tertentu sebagai pemarkah keseluruhannya dan secara ortografi biasanya diakhiri tanda titik atau tanda akhir lain yang sesuai.

Tunarungu hambatan dan solusinya

Ditulis Juni 13, 2010 oleh rozarumaisho
Kategori: habilitasi awal

Empat hal yang harus dilakukan bagi orangtua

S: SERVE them with SINCERE INTEREST ( layani mereka dengan tulus hati )

Anak tunarungu lebih sensitive, mereka akan merasa, kalau kita tidak tulus, segan melayani atau tidak peduli dengan mereka. Lahir dengan gangguan pendengaran dampaknya lebih serius daripada gangguan penglihatan. Semua yang diketahui anak tunarungu karena mereka “diberi tahu” dan “diajarkan”. Dengan demikian orangtua mempunyai peran dan tanggung jawab “melayani” mereka dalam arti “memberi informasi dan pengetahuan”

A:ATTENTION with AFECTION ( Perhatian dengan afeksi )

Tuli adalah musibah yang sangat menyedihkan (the most dseperate of human calamities). Mengapa? karena mereka biasanya diabaikan. Ini sebenarnya masih untung, lebih parah lagi kalau mereka kesepian dan ditolak. Orangtua, ingat anak tunarungu pun membutuhkan CINTA dan DISIPLIN.

L:LOOK BEYOND with your SENSITIVE LISTENING SKILL and HEART

Jangan melihat kegagalan anak sebagaimana yang tertera di rapor mereka. Coba bersabar dan cari akar masalahnya, analisa kekuatan dan kelemahannya. Dari sini, orangtua bisa lebih memahami dan coba bekerjasama dengan guru dan para ahli untuk mengatasinya.

T: TOTALLY TUNE INTO THEIR LIVES.

Saya menyadari bahwa hadirnya anak tunarungu di dalam keluarga membawa perubahan besar bagi setiap anggota keluarga. Kita semua harus menata kembali kehidupan ini, juga dengan keuangan dan lain-lainnya. Tetapi, tetaplah “bertahan” ingat “pemenang  selalu melalui pengorbanan dan yang kalah selalu banyak berdalih”. (winner always make sacrifices and losers always make excuse).

Masalah yang dialami anak dengan gangguan pendengaran berat adalah :

  • memproses informasi.

Anak akan mengalami interupsi dalam proses kognitifnya, karena perhatian terhadap stimulus, penerimaan stimulus, pemprosesan informasi yang masuk dan pengekspresiannya akan terganggu, karena ketuliannya.

  • daya ingat.

Anak sulit mengingat urutan yang diberikan baik secara verbal atau visual, karena daya ingat ini tergantung pada kemampuan bahasa reseptif dan ekspresif anak.

  • Berpikir logis dan abstrak.

Anak akan menunjukkan keterlambatan yang signifikan pada usia akhir Taman Kanak-Kanak, karena pengalam mereka hanya terbatas pada kemampuan sensomotorik dan proses visual spatial, tanpa pengalamn verbal. Keterbatasan bahasa akan mempengaruhi kemampuan berpikir logis, abstrak, proses berpikir tingkat tinggi dan kemampuan memecahkan masalah.

  • Prestasi akademis

Biasanya prestasi mereka lebih rendah.

  • Pemenuhan kebutuhan akan rasa aman, diterima dan dicintai, harga diri dan aktualisasi diri juga terpengaruh.

Mereka biasanya merasa rendah diri, lemah dan tidak berdaya. Perasaan terisolasi sangat terasa. Karena itu mereka biasanya mengalami masalah sosial dan emosi.

  • kematangan

Mereka merasa frustasi, kesepian, tidak berdaya dan sangat sedih. ini semua mempengaruhi tingkat kematangannya sebagai individu.

Mengatasi hambatan diatas, digunakan media teknologi dan secara konsisten membuka wawasan anak runarungu melalui “exposure” ke dunia luar. Guru juga banyak menjelaskan secara konkrit melalui komunikasi manual, gerakan dan “acting”. Membaca buku, menonton acara televisi dengan “subtitle” sangat membantu daya asosiasi dan pemahaman atr.

Memberikan pengayaan yang merangsang proses kognitifnya dengan merefleksi, menganalisa dan mengkomunikasikan kembali pengalaman atau proses yang baru dilaluinya. Mendayagunakan fungsi belahan otak kanan dengan merancang materi pengajaran melalui permainan, peragaan, menggambar, menyanyi, drama, bercerita dan berimajinasi, sedemikian rupa agar kedua belahan otak kiri dan kanan berfungsi optimal.

diambil dari buku “indah pada waktunya” Maryam Rudyanto seorang ibu tunarungu dan psikolog pendidikan

Sekolah Idaman

Ditulis Juni 16, 2008 oleh rozarumaisho
Kategori: tulisan ringan

Bulan Juni dan Juli ini bulan sibuknya orang tua untuk mempersiapkan sekolah anak-anaknya. Berbagai sekolah sudah di kunjungi untuk melihat bagus tidaknya ataupun siap tidaknya sekolah menerima anak berkebutuhan khusus. Boleh dibilang sedang demamnya sekolah inklusif tapi masih kalah heboh dengan demam euro 2008. Sebagai ibu yang punya abk, keinginan untuk mendapatkan pendidikan yang layak buat Roza juga teman-teman roza. Seperti di tulis di Blognya pak Didi Tarsidi bahwa sekolah inklusi itu sekolah untuk semua, semakin membuat kami semangat 45. Dari semua sekolah yang sudah dikunjungi akhirnya seperti membuat keinginan tersendiri tentang kriteria sekolah ideal.

Untuk Sekolah Luar Biasa, yang kami harapkan SLB itu merupakan wadah pendidikan yang didisain untuk mempersiapkan anak secara dini agar anak yang mampu secara kemampuan berpikir untuk bisa sekolah di sekolah umum/inklusi. Jika SLB itu merupakan sekolah yang mengajarkan melalui verbal, maka ajarkanlah abk berbahasa menggunakan bahasa verbal yang baik dari sisi pengucapan atau bahasa ujarannya, kosa katanya sehingga kemampuan anak untuk dapat mengembangkan bahasanya dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam lingkungan sekolah. Jadi ucapan anak tidak hanya bisa dimengerti oleh guru ataupun orang tua, tetapi oleh semua pihak. Dan untuk SLB yang menggunakan isyarat, karena tidak semua anak tunarungu bisa berbicara dan mengeluarkan suara. Bisa menempatkan guru pendamping sebagai interpreteur di sekolah umum untuk mempermudah abk mengikuti pelajaran.

Untuk sekolah umum, bukankah program inklusi sudah cukup lama diteriakkan oleh pemerintah. Bahkan iklannya sudah gencar di berbagai media massa. Persiapkanlah sekolah untuk benar2 bisa mendidik abk tanpa setengah-setengah. Kami pernah mendapat info tentang sd umum yang menerima abk dan tertera adanya guru plb disana, tapi kenyataan yang ada di lapangan. Sekolah2 itu mengatakan bahwa tidak ada guru2 plb. Jika kami ingin menyekolahkan abk, kami yang harus menyediakan guru pendamping sendiri. Sebenarnya banyak sekolah swasta yang memang bisa inklusi dan menyediakan guru pendamping. Tapi sudah jelas pasti memerlukan biaya yang besar untuk sekolah disini. Apakah sekolah inklusi hanya untuk orang yang mampu? bagaimana dengan abk yang cerdas tapi tidak punya biaya?

Keadaan seperti ini yang akhirnya memuncylkan ide bagi orang tua untuk membuat sekolah sendiri sesuai dengan kriteria sendiri. Tetapi apakah semua terselesaikan dengan membuat sekolah sendiri. Akan banyak sekolah tetapi mutu yang ada tidaklah bagus. Apa tidak lebih baik jika sekolah yang ada ditingkatkan kembali mutunya. Dan disesuaikan dengan perkembangan jaman yang bisa menerima abk seutuhnya. Dan bisa menangani abkdengan sebaiknya. Bagaimanapun juga mereka bukan orang no 2, tetapi mereka hanya sebagian dari manusia yang memang diberikan keistimewaan dari Allah SWT.

Natural auditory Oral

Ditulis April 21, 2008 oleh rozarumaisho
Kategori: habilitasi awal

Tags:

Natural Auditoray Oral – approach

Components of NAO

Early intervention

Less than 5 years old

Parent Guidance

For older children 5-6 years old

Individual Conversation

Listening Skills

To learn to listen better

Di dalam penerapan metode NAO ini sebenarnya boleh dikatakan sama dengan Individual conversation. Hal2 yang perlu diperhatikan dalam melakukan Individual Conversation ini adalah:

1. Kontak Mata (Eye Contact)

2. Memberikan Perhatian pada percakapan (Joint Attention)

3. Bergantian (Turn Taking)

4. Istirahat (Pause)

5. Mengulang kontribusi / jawaban si anak (Rephrase child’s contribution)

6. Terima semua kontribusi dari si anak (Acknowledge all child’s contribution)

7. Mengulang dan meminta perhatian si anak (Rephrase & Get child’s attention)

8. Tekankan pada mendengar (Emphasize Listening)

9. Beri pertanyaan (Question)

10. Nikmati (Enjoy)

Berikut merupakan penjabaran untuk masing2 komponen

1. Kontak Mata (Eye Contact)

Jangan menatap terus menerus

Sesekali melihat ke segala arah

Perhatikan apakah lawan bicara mengerti dengan yang kita bicarakan

Jadikan pembicaraan menjadi percakapan dua arah

Kontak mata mengatakan segala sesuatu. Kita selalu bisa tahu apakah topik pembicaraan kita membuat lawan bicara merasa tertarik atau tidak. Usahakan dalam membicarakan topik, lawan bicara (anak dalam sesi NAO ini) tertarik.

2. Memberikan Perhatian pada percakapan (Joint Attention)

Keduanya memperhatikan materi pembicaraan yang sama

Keduanya mempunyai atensi pada materi yang sama

Pertahankan lamanya ketertarikan pada pembicaraan

Dalam hal ini orangtua/guru/terapis sebaiknya selama mungkin mempertahankan pembicaraan tersebut, usahakan munculnya kebosanan anak tidak terlalu cepat

3. Bergantian (Turn Taking)

Berikan kesempatan anak untuk bergantian untuk memimpin pembicaraan

Kedua2nya jangan berbicara pada saat yang bersamaan

Masing2 menunggu lawan bicara selesai bicara (ajarkan anak untuk mendengarkan kita terlebih dahulu baru berbicara, kita juga harus mendengarkan anak dengan baik sampai dia selesai berbicara)

Ambil posisi bicara setelah anak selesai berbicara

Orang dewasa sebaiknya tidak boleh memimpin pembicaraan terus menerus.

Contoh pada anak bayi, bagaimana caranya kita memberi kesempatan turn taking ini?

Bila saat kita berbicara pada bayi, bayi merespon kadang hanya dengan kata “EH” sebenernya itulah turn taking yg diambil si bayi. Saat itu kita harus mendengarkan dia, dan stop berbicara.

4. Istirahat (Pause)

Kita harus memberi jeda setelah kita berbicara

Jangan takut bila terjadi keheningan

Biarkan anak memproses sebentar apa yang telah kita bicarakan

Jangan terlalu cepat mengambil alih kontrol pembicaraan kembali karena merasa terlalu lama hening

Contoh: misal kita menanyakan ke anak; kamu hari ini pakai baju apa sih? Kemudian tidak menjawab, jangan kita katakan ooo kayaknya kamu pakai baju merah deh. Hal yang terbaik yang harus dilakukan adalah dengan mengulang kembali pertanyaan, seperti, kamu hari ini pakai baju apa yaa?

Kadang2 kita harus mengulang kembali apa yang kita bicarakan

Tekankan juga pada gesture, pertanyaan, encouragement seperti body language

bila dirasa terlalu lama tidak ada respon, orang dewasa kembali ambil alih pembicaraan , terutama pada bayi

Jangan paksa anak untuk merespon. Jika anda merasakan rasa frustasi dari si anak untuk merespon, jangan teruskan pembicaraan, berhenti saja.

5. Mengulang kontribusi jawaban si anak (Rephrase child’s contribution)

ulang kembali kontribusi jawabn si anak, dengan maksud untuk memberi koreksi pada ucapan si anak

Orang dewasa harus mengulang dengan susunan kata yang baik dan benar

Contoh:

Anak menjawab: aku baju merah toko

Kita betulkan menjadi: oooh kamu pakai baju merah yang dibeli di toko kemarin

Hal ini sama dengan diri kita ketika kita belajar baha selain bahasa indonesia. Awal2 kita berbicara pasti terpatah2, bila kita berbicara terpatah2 biasanya orang lain yang lebih mengerti akan membetulkan pengucapan kita sehingga kita bisa mengerti harus bilang bagaiman. Beginilah yang terjadi juga untuk anak2 tuna rungu.

6. Terima semua kontribusi dari si anak (Acknowledge all child’s contribution)

Terima semua jawaban anak walaupun hanya “EH”

Jangan memakai kata yang berkonotasi negatif, seperti misalnya tidak, jangan, salah, kurang, kurang bagus, dsb

Bila anak merasa tertekan (discouraged), pada waktu berikutnya anak akan memberikan perhatian yang lebih sedikit pada sesi ini.

7. Mengulang dan meminta perhatian si anak (Rephrase & Get child’s attention)

ulangi kembali perkataan/jawaban si anak dengan menggunakan bahasa yang baik

usahakan anak untuk dapat mengulang apa yang kita ucapkan ulang

anak mendapatkan auditory feedback

8. Tekankan pada mendengar (Emphasize Listening)

berikan penekanan untuk selalu mendengar

Berikan kata2 seperti, “dengar”, “coba dengar” bukan “lihat”,“coba lihat”

Ingatkan/alihkan perhatian anak bila mendengar suatu suara yang tiba/membikin terkejut. Misal bila kita sedang mengadakan sesi percakapan, tiba2 ada pintu terbanting, kita bisa bilang seperti “ eh nak, dengar suara apa itu? “ bila dia belum terlalu aware pelan2 tunjukkan dimana sumber suara tersebut

9. Beri pertanyaan (Question)

Jangan berikan pertanyaan yang hanya bisa dijawab dengan satu kata, usahakan pertanyaan tersebut memiliki jawaban yang memaksa si anak untuk dapat menajwab dalam kalimat yang lengkap.panjang

Jangan beri tes pengetahuan pada anak pada subyek area tersebut

10. Nikmati (Enjoy)

Jangan anggap ini merupakan suatu pelajaran (jadi kaku)

Harus selalu enjoy, terutama anak

Anak tidak tahu bahwa dia sebenarnya dalam situasi belajar

Anak menyelesaikan sesi tersebut dan meminta lagi

Catatan:

Anak yang terlambat memakai alat bantu dengar, tentu akan lebih lama untuk dapat mempelajar bahasa dibandingkan anak yang ditangani secara dini.

Harus setiap hari dalam mengajarkan anak

Di sesi ini diberi contoh anak dari keluarga kelas menengah bawah, anak pertama dr empat bersaudara. Tuli berat (profoundly deaf), hanya memakai Hearing Aid. Saat ditampilkan sesi pertama dia masih berusia 2 tahun. Saat ini usianya 20 tahun (kebayang dong 18 tahun yl alat nya secanggih apa). Luar biasa bagus hasilnya, perfect! Like a normal child! Sekarang dia duduk di bangku university.

Ini tulisan dari mama selin di multiplynya, lama nggak posting di sini. rasanya kok seperti mati ide.

Ditulis Maret 3, 2008 oleh rozarumaisho
Kategori: Alat Bantu Dengar

Ternyata walaupun sudah memakai abd, bukan berarti buah hati kita dapat mendengar dan menangkap pembicaraan dengan baik seperti anak normal. Ada tiga masalah yang dihadapi, yaitu :

 

1.     hanya dapat menangkap sebagian dari percakapan. Tidak dapat secara utuh.

2.     jarak antara pemakai abd dan pembicara. Semakin jauh jaraknya, semakin sedikit yang dapat diterima.

3.     suara latar yang bising. Fungsi abd adalah membuat suara lebih keras (mengamplifikasi), termasuk suara latar yang bising.

 

Itulah sebabnya mengapa gangguan pendengaran selalu membuat perbedaan antara buah hati kita dengan anak yang dapat mendengar normal.

 

 

Disadur bebas oleh : Dion (Mama Menur)

Dari : Oticon Kids

itu saduran dari blog teman yang bagus.

Ditulis Februari 22, 2008 oleh rozarumaisho
Kategori: Alat Bantu Dengar

Di buku “A Practical Guide to Quality Interaction With Children Who Hava a Hearin Loss” karangan Morag Clark, banyak sekali hal yang harus dilakukan buat meningkatkan kemampuan mendengar anak paska pemasangan ABD.

Beberapa hal yang harus tidak dilakukan setelah pemasangan ABD

  • Melebih-lebihkan bentuk mulut kita pada saat berbicara kepada anak, jika dilakukan anak akan lebih berkonsentrasi melihat bentuk mulut kita daripada mengoptimalkan sisa pendengarannya. Berbicara secara normal dengan menggunakan penekanan pada setiap katanya, dan juga berirama serta tidak terlalu cepat dalam pengucapannya.
  • Ekspresi pada wajah yang berlebihan
  • Menyengaja agar anak melihat bentuk bibir kita pada saat berbicara daripada menggunakan pendengarannya.
  • Menepuk atau menyetuh anak daripada memanggil namanya. Panggillah nama anak dari jarak yang dekat telinga untuk permulaan, jika dalam 2-3 tidak ada respon dia menoleh maka sentuhlah dia sambil menyebutkan namanya. Untuk mengajarkan kepada dia bahwa suara yang dia dengar tadi adalah untuk memanggil namanya.
  • Menggunakan bahasa tubuh yang dibuat-buat atau menggunakan bahasa isyarat. Anak akan merasa senang menggunakan bahasa isyarat karena cenderung lebih mudah dan tidak memerlukan konsentarsi yang penuh dalam memahami bahasa.

Sedikit demi sedikit dihindarkan untuk lebih mengembangkan kesadaran akan mendengar bagi anak.

Keikutsertaan orangtua dan profesional melihat perkembangan bicara anak setelah mereka belajar mendengar. Ada banyak faktor untuk mengembangkan kemampuan dengar anak.

  • Manajemen anak

anak dengan kebiasaan tak terkendali biasa tidak menggunakan sisa pendengarannya secara maksimal. Orangtua tidak menuruti anak dan harus menekankan kepada orangtua agar anak berusaha menggunakan pendengarannya.

  • Posisi

Orangtua harus menyadari jarak speaker dari sumber suara akan mempengaruhi pendengaran anak. Orangtua dianjurkan pada awal belajar mendengar untuk terus melakukan proses belajar mendengar pada saat berinteraksi sehari-hari secara natural.

  • Kondisi ABD

ada beberapa hal yang harus setiap hari dilakukan: Mengecek baterai, Memeriksa ear molds karena ear molds yang tidak pas akan membuat anak tidak nyaman dalam mendengar.

  • Menghindarkan suara yang mengganggu

Walaupun pada keadaan normal terdapat berbagai macam bunyi disekitar tetapi pada saat anak belajar mendengar usahakan suasana diruangan belajar nyaman dan tidak terdapat suara yang mengganggu.

  • Memberikan dukungan kepada anak untuk mendengar untuk pengembangangan bahasanya

Mengajarkan anak yang masih kecil dengan suara-suara binatang akan membantu dan anakpun senang melakukanya, serta bunyi kendaraan misalnya : aaaaa untuk pesawat terbang. pada kehidupan sehari-hari banyak hal menarik yang bisa dipakai untuk belajar mendengar.

  • Menghindari tes yang berlebihan

Orangtua sangat senang sekali jika anaknya dapat mendengar dan menoleh jika namanya dipanggil. Janganlah sering memanggil namanya untuk sekedar mengetes saja. Perlu diingat anak normalpun seringkali tidak memperhatikan bunyi pada sekitarnya pada saat mereka sedang melakukan aktivitas yang menyenangkan.

  • Melihat atau tanda petunjuk

Pada proses belajat mendengar, orangtua belajar untuk menghindari memberikan petunjuk secara visual yang tidak diperlukan, pada saat bersamaan selama berinteraksi anak melihat secara natural pada saat orang berbicara. Dalam hal ini anak menggabungkan mendengar dan melihat pada keadaan berinteraksi. Sama dengan anak normal

  • Mendengar sebagai dasar keterampilan berbicara

Pada saat anak mendengar, diawal kemampuan mendengar adalah mendeteksi adanya bunyi, setelah itu pada tahap selanjutnya membedakan bunyi dari jenis bunyi serta arah sumber bunyi, dan mengidentifikasikan bunyi bisa menunjukkan bunyi apakah yang anak dengar hingga memahami arti dari bunyi yang didengar menjadi sebuah bahasa.

Beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua dan anak di rumah setelah pemasangan ABD. Masih banyak hal yang bisa dipelajari dari buku Morag Clark yang akan coba disampaikan disini tetapi dengan berbagai keterbatasan yang ada.