Sekolah Alternatif
Pada saat anak masuk usia sekolah mulailah bingung mau di sekolahkan anak-anak kita. Untuk anak normal banyak sekolah pilihan dari yang biasa saja sampai sekolah dengan fasilitas plus plus. Pemerintah sendiri telah mencanangkan program inklusi tetapi belum semua sekolah di Indonesia yang siap baik dari sisi pendidiknya maupun fasilitas. Beberapa anak tuna rungu sudah dapat sekolah di sekolah normal dan bisa mengikuti pelajaran yang baik serta berhasil memiliki nilai akademik yang baik. Kecenderungan kita, keberhasilan anak itu diukur dari berapa banyak nilai yang didapat bukan apa yang bisa mereka dapatkan dan serap disekolah jadi bisa diaplikasikan. Standar kelulusan dari pemerintah yang tinggi pun cenderung membuat orang tua memaksa anak untuk bisa mendapat nilai yang tinggi,yah bahkan ada beberapa cara illegal yang terpaksa dilakukan agar anaknya bisa lulus. Kembali ke sekolah inklusi, agar menjadi sekolah inklusi yang baik diperlukan guru pendamping didalam kelas yang bisa membantu anak bisa memahami pelajaran di kelas. Pertanyaan saya sendiri, apa sekolah menyediakan guru pendamping atau orang tua sendiri yang membawa. Memang sudah ada beberapa anak yang sekolah tanpa guru pendamping karena kemampuan daya tangkap yang bagus atau pemasangan cochlear implan (tidak semua mampu untuk implan) juga karena tingkat gangguan yang ringan. Tapi ada banyak sekali kasus anak tuna rungu yang memerlukan penanganan yang berbeda. Teringat kisahnya Hellen Keller seorang anak tuna rungu dan buta yang berhasil sampai ke jenjang pendidikan yang tinggi dengan dukungan orang tua dan guru pendampingnya. Serta sebuah film india yang berjudul BLACK mungkin bisa kita jadikan penyemangat untuk membawa anak kita lebih maju lagi. Guru pendamping sendiri tidak terus menerus diperlukan, jika anak bisa membaca gerak bibir yang baik dan mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Guru bantu hanya sekedar membantu dirumah untuk mengulang pelajaran yang tadi di terima disekolah, hal ini bisa dikerjakan kita sendiri.
Sekarang ini di Denpasar Bali ada beberapa kelompok orang yang berusaha membuat suatu wadah pendidikan usia dini bagi anak tuna rungu yang bertujuan pada sia anak masuk usia sekolah mereka sudah siap dari sisi bahasa secara verbal, mental maupun kemampuan akademiknya sehingga bisa masuk ke sekolah normal. Bikabelle Swara Swari Institute, Baru beberapa bulan berjalan tapi visi yang dimiliki menunjang keinginan orang tua. Dari sisa pendengaran yang ada di optimalkan dengan ABD dan dikelas pun anak setiap hari dilatih kepekaan bunyi dan suara (ABD yang pas), selain dari perkembangan motorik kasar dan halusnya serta dalam berbahasa dan berhitung. Yang diharapkan keluar dari sini anak benar-benar siap di sekolah yang dituju. Permasalahannya tidak semua orang mampu membeli alat yang harganya cukup variatif dan cenderung mahal untuk perekonomian kita. Sebenarnya dari pemerintah khususnya Dinas Sosial ada program untuk pemberian ABD (saya pernah bertemu dengan anak yang mendapatkan bantuan ABD) tetapi tidak semua dapat dan setelah dapat tidak mendapat Habilitasi awal untuk mengoptimalkan kerja alat. Serta beberapa foundation lokal maupun luar pun banyak memberikan sumbangan baik perorangan maupun ke SLBB. Seandainya semua itu bisa dikelola dengan baik, program inklusi pemerintah bisa berjalan dengan baik. Anak yang mendapatkan informasi melalui pendengaran dan penglihatan jauh lebih baik dari membaca gerak bibir saja.
Juli 16, 2008 at 4:10 am
Trimakasih atas ulasannya…
Di Bali Yayasan Swara-swari Punya 4 Program:
1. Early Detection (semua anak lahir harus ditest (pake OAE) dlll (RS Sanglah)
2. Early Intervesion (semua anak gangguan pendengaran harus dilakukan intervensi
baik pakai ABD atau Implant. Masalah biaya biasanya ada jalan keluar.
3. Early habitation. Semua anak yang telah diintervensi harus mendapatkan
assesment habilatasi dengan baik an benar (AVT & NAO)
4. Early Education.. Anak yang telah mendapatkan layanan habilatasi dengan benar dn
baik, biasanya akan dengn lebih baik kemampuanya dalam memilih sekolah, yaitu
sekolah normal dengan menerapkan sistem Inklusi…kalo masih ragu kita akan
mendaminginya ke sekolah2 itu
Eh tak terasa telah membantu bangsa dan negara ini…. AMIEN>>>
Januari 29, 2009 at 4:58 am
ya sekolah bagi anak2 normal banyak namun dengan keterbatasan khusus seperti anak kita perlu hunting extra ya. namun di sekolah manapun itu tetap saj power of parent sangat dominan dalam perkemabngan si anak kita. keberhasilah itu kan seperti matarantai yang harus saling menisi dan membutuhkan dan kerjasama di pihak ortu, guru, therapys dan anak, dokter, psikolog dan nutrisinist.
mungkin akan lebih baik hasilnya lagi.