Natural Auditoray Oral – approach
Components of NAO
- Early intervention
Less than 5 years old
- Parent Guidance
For older children 5-6 years old
- Individual Conversation
- Listening Skills
To learn to listen better
Di dalam penerapan metode NAO ini sebenarnya boleh dikatakan sama dengan Individual conversation. Hal2 yang perlu diperhatikan dalam melakukan Individual Conversation ini adalah:
1. Kontak Mata (Eye Contact)
2. Memberikan Perhatian pada percakapan (Joint Attention)
3. Bergantian (Turn Taking)
4. Istirahat (Pause)
5. Mengulang kontribusi / jawaban si anak (Rephrase child’s contribution)
6. Terima semua kontribusi dari si anak (Acknowledge all child’s contribution)
7. Mengulang dan meminta perhatian si anak (Rephrase & Get child’s attention)
8. Tekankan pada mendengar (Emphasize Listening)
9. Beri pertanyaan (Question)
10. Nikmati (Enjoy)
Berikut merupakan penjabaran untuk masing2 komponen
1. Kontak Mata (Eye Contact)
- Jangan menatap terus menerus
- Sesekali melihat ke segala arah
- Perhatikan apakah lawan bicara mengerti dengan yang kita bicarakan
- Jadikan pembicaraan menjadi percakapan dua arah
Kontak mata mengatakan segala sesuatu. Kita selalu bisa tahu apakah topik pembicaraan kita membuat lawan bicara merasa tertarik atau tidak. Usahakan dalam membicarakan topik, lawan bicara (anak dalam sesi NAO ini) tertarik.
2. Memberikan Perhatian pada percakapan (Joint Attention)
- Keduanya memperhatikan materi pembicaraan yang sama
- Keduanya mempunyai atensi pada materi yang sama
- Pertahankan lamanya ketertarikan pada pembicaraan
Dalam hal ini orangtua/guru/terapis sebaiknya selama mungkin mempertahankan pembicaraan tersebut, usahakan munculnya kebosanan anak tidak terlalu cepat
3. Bergantian (Turn Taking)
- Berikan kesempatan anak untuk bergantian untuk memimpin pembicaraan
- Kedua2nya jangan berbicara pada saat yang bersamaan
- Masing2 menunggu lawan bicara selesai bicara (ajarkan anak untuk mendengarkan kita terlebih dahulu baru berbicara, kita juga harus mendengarkan anak dengan baik sampai dia selesai berbicara)
- Ambil posisi bicara setelah anak selesai berbicara
- Orang dewasa sebaiknya tidak boleh memimpin pembicaraan terus menerus.
Contoh pada anak bayi, bagaimana caranya kita memberi kesempatan turn taking ini?
Bila saat kita berbicara pada bayi, bayi merespon kadang hanya dengan kata “EH” sebenernya itulah turn taking yg diambil si bayi. Saat itu kita harus mendengarkan dia, dan stop berbicara.
4. Istirahat (Pause)
- Kita harus memberi jeda setelah kita berbicara
- Jangan takut bila terjadi keheningan
- Biarkan anak memproses sebentar apa yang telah kita bicarakan
- Jangan terlalu cepat mengambil alih kontrol pembicaraan kembali karena merasa terlalu lama hening
Contoh: misal kita menanyakan ke anak; kamu hari ini pakai baju apa sih? Kemudian tidak menjawab, jangan kita katakan ooo kayaknya kamu pakai baju merah deh. Hal yang terbaik yang harus dilakukan adalah dengan mengulang kembali pertanyaan, seperti, kamu hari ini pakai baju apa yaa?
- Kadang2 kita harus mengulang kembali apa yang kita bicarakan
- Tekankan juga pada gesture, pertanyaan, encouragement seperti body language
- bila dirasa terlalu lama tidak ada respon, orang dewasa kembali ambil alih pembicaraan , terutama pada bayi
- Jangan paksa anak untuk merespon. Jika anda merasakan rasa frustasi dari si anak untuk merespon, jangan teruskan pembicaraan, berhenti saja.
5. Mengulang kontribusi jawaban si anak (Rephrase child’s contribution)
- ulang kembali kontribusi jawabn si anak, dengan maksud untuk memberi koreksi pada ucapan si anak
- Orang dewasa harus mengulang dengan susunan kata yang baik dan benar
Contoh:
Anak menjawab: aku baju merah toko
Kita betulkan menjadi: oooh kamu pakai baju merah yang dibeli di toko kemarin
Hal ini sama dengan diri kita ketika kita belajar baha selain bahasa indonesia. Awal2 kita berbicara pasti terpatah2, bila kita berbicara terpatah2 biasanya orang lain yang lebih mengerti akan membetulkan pengucapan kita sehingga kita bisa mengerti harus bilang bagaiman. Beginilah yang terjadi juga untuk anak2 tuna rungu.
6. Terima semua kontribusi dari si anak (Acknowledge all child’s contribution)
- Terima semua jawaban anak walaupun hanya “EH”
- Jangan memakai kata yang berkonotasi negatif, seperti misalnya tidak, jangan, salah, kurang, kurang bagus, dsb
- Bila anak merasa tertekan (discouraged), pada waktu berikutnya anak akan memberikan perhatian yang lebih sedikit pada sesi ini.
7. Mengulang dan meminta perhatian si anak (Rephrase & Get child’s attention)
- ulangi kembali perkataan/jawaban si anak dengan menggunakan bahasa yang baik
- usahakan anak untuk dapat mengulang apa yang kita ucapkan ulang
- anak mendapatkan auditory feedback
8. Tekankan pada mendengar (Emphasize Listening)
- berikan penekanan untuk selalu mendengar
- Berikan kata2 seperti, “dengar”, “coba dengar” bukan “lihat”,“coba lihat”
- Ingatkan/alihkan perhatian anak bila mendengar suatu suara yang tiba/membikin terkejut. Misal bila kita sedang mengadakan sesi percakapan, tiba2 ada pintu terbanting, kita bisa bilang seperti “ eh nak, dengar suara apa itu? “ bila dia belum terlalu aware pelan2 tunjukkan dimana sumber suara tersebut
9. Beri pertanyaan (Question)
- Jangan berikan pertanyaan yang hanya bisa dijawab dengan satu kata, usahakan pertanyaan tersebut memiliki jawaban yang memaksa si anak untuk dapat menajwab dalam kalimat yang lengkap.panjang
- Jangan beri tes pengetahuan pada anak pada subyek area tersebut
10. Nikmati (Enjoy)
- Jangan anggap ini merupakan suatu pelajaran (jadi kaku)
- Harus selalu enjoy, terutama anak
- Anak tidak tahu bahwa dia sebenarnya dalam situasi belajar
- Anak menyelesaikan sesi tersebut dan meminta lagi
Catatan:
Anak yang terlambat memakai alat bantu dengar, tentu akan lebih lama untuk dapat mempelajar bahasa dibandingkan anak yang ditangani secara dini.
Harus setiap hari dalam mengajarkan anak
Di sesi ini diberi contoh anak dari keluarga kelas menengah bawah, anak pertama dr empat bersaudara. Tuli berat (profoundly deaf), hanya memakai Hearing Aid. Saat ditampilkan sesi pertama dia masih berusia 2 tahun. Saat ini usianya 20 tahun (kebayang dong 18 tahun yl alat nya secanggih apa). Luar biasa bagus hasilnya, perfect! Like a normal child! Sekarang dia duduk di bangku university.
Ini tulisan dari mama selin di multiplynya, lama nggak posting di sini. rasanya kok seperti mati ide.
Komentar Terakhir