Sekolah Idaman

Posted Juni 16, 2008 by rozarumaisho
Categories: tulisan ringan

Bulan Juni dan Juli ini bulan sibuknya orang tua untuk mempersiapkan sekolah anak-anaknya. Berbagai sekolah sudah di kunjungi untuk melihat bagus tidaknya ataupun siap tidaknya sekolah menerima anak berkebutuhan khusus. Boleh dibilang sedang demamnya sekolah inklusif tapi masih kalah heboh dengan demam euro 2008. Sebagai ibu yang punya abk, keinginan untuk mendapatkan pendidikan yang layak buat Roza juga teman-teman roza. Seperti di tulis di Blognya pak Didi Tarsidi bahwa sekolah inklusi itu sekolah untuk semua, semakin membuat kami semangat 45. Dari semua sekolah yang sudah dikunjungi akhirnya seperti membuat keinginan tersendiri tentang kriteria sekolah ideal.

Untuk Sekolah Luar Biasa, yang kami harapkan SLB itu merupakan wadah pendidikan yang didisain untuk mempersiapkan anak secara dini agar anak yang mampu secara kemampuan berpikir untuk bisa sekolah di sekolah umum/inklusi. Jika SLB itu merupakan sekolah yang mengajarkan melalui verbal, maka ajarkanlah abk berbahasa menggunakan bahasa verbal yang baik dari sisi pengucapan atau bahasa ujarannya, kosa katanya sehingga kemampuan anak untuk dapat mengembangkan bahasanya dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam lingkungan sekolah. Jadi ucapan anak tidak hanya bisa dimengerti oleh guru ataupun orang tua, tetapi oleh semua pihak. Dan untuk SLB yang menggunakan isyarat, karena tidak semua anak tunarungu bisa berbicara dan mengeluarkan suara. Bisa menempatkan guru pendamping sebagai interpreteur di sekolah umum untuk mempermudah abk mengikuti pelajaran.

Untuk sekolah umum, bukankah program inklusi sudah cukup lama diteriakkan oleh pemerintah. Bahkan iklannya sudah gencar di berbagai media massa. Persiapkanlah sekolah untuk benar2 bisa mendidik abk tanpa setengah-setengah. Kami pernah mendapat info tentang sd umum yang menerima abk dan tertera adanya guru plb disana, tapi kenyataan yang ada di lapangan. Sekolah2 itu mengatakan bahwa tidak ada guru2 plb. Jika kami ingin menyekolahkan abk, kami yang harus menyediakan guru pendamping sendiri. Sebenarnya banyak sekolah swasta yang memang bisa inklusi dan menyediakan guru pendamping. Tapi sudah jelas pasti memerlukan biaya yang besar untuk sekolah disini. Apakah sekolah inklusi hanya untuk orang yang mampu? bagaimana dengan abk yang cerdas tapi tidak punya biaya?

Keadaan seperti ini yang akhirnya memuncylkan ide bagi orang tua untuk membuat sekolah sendiri sesuai dengan kriteria sendiri. Tetapi apakah semua terselesaikan dengan membuat sekolah sendiri. Akan banyak sekolah tetapi mutu yang ada tidaklah bagus. Apa tidak lebih baik jika sekolah yang ada ditingkatkan kembali mutunya. Dan disesuaikan dengan perkembangan jaman yang bisa menerima abk seutuhnya. Dan bisa menangani abkdengan sebaiknya. Bagaimanapun juga mereka bukan orang no 2, tetapi mereka hanya sebagian dari manusia yang memang diberikan keistimewaan dari Allah SWT.

Natural auditory Oral

Posted April 21, 2008 by rozarumaisho
Categories: habilitasi awal

Tags:

Natural Auditoray Oral – approach

Components of NAO

- Early intervention

Less than 5 years old

- Parent Guidance

For older children 5-6 years old

- Individual Conversation

- Listening Skills

To learn to listen better

Di dalam penerapan metode NAO ini sebenarnya boleh dikatakan sama dengan Individual conversation. Hal2 yang perlu diperhatikan dalam melakukan Individual Conversation ini adalah:

1. Kontak Mata (Eye Contact)

2. Memberikan Perhatian pada percakapan (Joint Attention)

3. Bergantian (Turn Taking)

4. Istirahat (Pause)

5. Mengulang kontribusi / jawaban si anak (Rephrase child’s contribution)

6. Terima semua kontribusi dari si anak (Acknowledge all child’s contribution)

7. Mengulang dan meminta perhatian si anak (Rephrase & Get child’s attention)

8. Tekankan pada mendengar (Emphasize Listening)

9. Beri pertanyaan (Question)

10. Nikmati (Enjoy)

Berikut merupakan penjabaran untuk masing2 komponen

1. Kontak Mata (Eye Contact)

- Jangan menatap terus menerus

- Sesekali melihat ke segala arah

- Perhatikan apakah lawan bicara mengerti dengan yang kita bicarakan

- Jadikan pembicaraan menjadi percakapan dua arah

Kontak mata mengatakan segala sesuatu. Kita selalu bisa tahu apakah topik pembicaraan kita membuat lawan bicara merasa tertarik atau tidak. Usahakan dalam membicarakan topik, lawan bicara (anak dalam sesi NAO ini) tertarik.

2. Memberikan Perhatian pada percakapan (Joint Attention)

- Keduanya memperhatikan materi pembicaraan yang sama

- Keduanya mempunyai atensi pada materi yang sama

- Pertahankan lamanya ketertarikan pada pembicaraan

Dalam hal ini orangtua/guru/terapis sebaiknya selama mungkin mempertahankan pembicaraan tersebut, usahakan munculnya kebosanan anak tidak terlalu cepat

3. Bergantian (Turn Taking)

- Berikan kesempatan anak untuk bergantian untuk memimpin pembicaraan

- Kedua2nya jangan berbicara pada saat yang bersamaan

- Masing2 menunggu lawan bicara selesai bicara (ajarkan anak untuk mendengarkan kita terlebih dahulu baru berbicara, kita juga harus mendengarkan anak dengan baik sampai dia selesai berbicara)

- Ambil posisi bicara setelah anak selesai berbicara

- Orang dewasa sebaiknya tidak boleh memimpin pembicaraan terus menerus.

Contoh pada anak bayi, bagaimana caranya kita memberi kesempatan turn taking ini?

Bila saat kita berbicara pada bayi, bayi merespon kadang hanya dengan kata “EH” sebenernya itulah turn taking yg diambil si bayi. Saat itu kita harus mendengarkan dia, dan stop berbicara.

4. Istirahat (Pause)

- Kita harus memberi jeda setelah kita berbicara

- Jangan takut bila terjadi keheningan

- Biarkan anak memproses sebentar apa yang telah kita bicarakan

- Jangan terlalu cepat mengambil alih kontrol pembicaraan kembali karena merasa terlalu lama hening

Contoh: misal kita menanyakan ke anak; kamu hari ini pakai baju apa sih? Kemudian tidak menjawab, jangan kita katakan ooo kayaknya kamu pakai baju merah deh. Hal yang terbaik yang harus dilakukan adalah dengan mengulang kembali pertanyaan, seperti, kamu hari ini pakai baju apa yaa?

- Kadang2 kita harus mengulang kembali apa yang kita bicarakan

- Tekankan juga pada gesture, pertanyaan, encouragement seperti body language

- bila dirasa terlalu lama tidak ada respon, orang dewasa kembali ambil alih pembicaraan , terutama pada bayi

- Jangan paksa anak untuk merespon. Jika anda merasakan rasa frustasi dari si anak untuk merespon, jangan teruskan pembicaraan, berhenti saja.

5. Mengulang kontribusi jawaban si anak (Rephrase child’s contribution)

- ulang kembali kontribusi jawabn si anak, dengan maksud untuk memberi koreksi pada ucapan si anak

- Orang dewasa harus mengulang dengan susunan kata yang baik dan benar

Contoh:

Anak menjawab: aku baju merah toko

Kita betulkan menjadi: oooh kamu pakai baju merah yang dibeli di toko kemarin

Hal ini sama dengan diri kita ketika kita belajar baha selain bahasa indonesia. Awal2 kita berbicara pasti terpatah2, bila kita berbicara terpatah2 biasanya orang lain yang lebih mengerti akan membetulkan pengucapan kita sehingga kita bisa mengerti harus bilang bagaiman. Beginilah yang terjadi juga untuk anak2 tuna rungu.

6. Terima semua kontribusi dari si anak (Acknowledge all child’s contribution)

- Terima semua jawaban anak walaupun hanya “EH”

- Jangan memakai kata yang berkonotasi negatif, seperti misalnya tidak, jangan, salah, kurang, kurang bagus, dsb

- Bila anak merasa tertekan (discouraged), pada waktu berikutnya anak akan memberikan perhatian yang lebih sedikit pada sesi ini.

7. Mengulang dan meminta perhatian si anak (Rephrase & Get child’s attention)

- ulangi kembali perkataan/jawaban si anak dengan menggunakan bahasa yang baik

- usahakan anak untuk dapat mengulang apa yang kita ucapkan ulang

- anak mendapatkan auditory feedback

8. Tekankan pada mendengar (Emphasize Listening)

- berikan penekanan untuk selalu mendengar

- Berikan kata2 seperti, “dengar”, “coba dengar” bukan “lihat”,“coba lihat”

- Ingatkan/alihkan perhatian anak bila mendengar suatu suara yang tiba/membikin terkejut. Misal bila kita sedang mengadakan sesi percakapan, tiba2 ada pintu terbanting, kita bisa bilang seperti “ eh nak, dengar suara apa itu? “ bila dia belum terlalu aware pelan2 tunjukkan dimana sumber suara tersebut

9. Beri pertanyaan (Question)

- Jangan berikan pertanyaan yang hanya bisa dijawab dengan satu kata, usahakan pertanyaan tersebut memiliki jawaban yang memaksa si anak untuk dapat menajwab dalam kalimat yang lengkap.panjang

- Jangan beri tes pengetahuan pada anak pada subyek area tersebut

10. Nikmati (Enjoy)

- Jangan anggap ini merupakan suatu pelajaran (jadi kaku)

- Harus selalu enjoy, terutama anak

- Anak tidak tahu bahwa dia sebenarnya dalam situasi belajar

- Anak menyelesaikan sesi tersebut dan meminta lagi

Catatan:

Anak yang terlambat memakai alat bantu dengar, tentu akan lebih lama untuk dapat mempelajar bahasa dibandingkan anak yang ditangani secara dini.

Harus setiap hari dalam mengajarkan anak

Di sesi ini diberi contoh anak dari keluarga kelas menengah bawah, anak pertama dr empat bersaudara. Tuli berat (profoundly deaf), hanya memakai Hearing Aid. Saat ditampilkan sesi pertama dia masih berusia 2 tahun. Saat ini usianya 20 tahun (kebayang dong 18 tahun yl alat nya secanggih apa). Luar biasa bagus hasilnya, perfect! Like a normal child! Sekarang dia duduk di bangku university.

Ini tulisan dari mama selin di multiplynya, lama nggak posting di sini. rasanya kok seperti mati ide.

Posted Maret 3, 2008 by rozarumaisho
Categories: Alat Bantu Dengar

Ternyata walaupun sudah memakai abd, bukan berarti buah hati kita dapat mendengar dan menangkap pembicaraan dengan baik seperti anak normal. Ada tiga masalah yang dihadapi, yaitu :

 

1.     hanya dapat menangkap sebagian dari percakapan. Tidak dapat secara utuh.

2.     jarak antara pemakai abd dan pembicara. Semakin jauh jaraknya, semakin sedikit yang dapat diterima.

3.     suara latar yang bising. Fungsi abd adalah membuat suara lebih keras (mengamplifikasi), termasuk suara latar yang bising.

 

Itulah sebabnya mengapa gangguan pendengaran selalu membuat perbedaan antara buah hati kita dengan anak yang dapat mendengar normal.

 

 

Disadur bebas oleh : Dion (Mama Menur)

Dari : Oticon Kids

itu saduran dari blog teman yang bagus.

Posted Februari 22, 2008 by rozarumaisho
Categories: Alat Bantu Dengar

Di buku “A Practical Guide to Quality Interaction With Children Who Hava a Hearin Loss” karangan Morag Clark, banyak sekali hal yang harus dilakukan buat meningkatkan kemampuan mendengar anak paska pemasangan ABD.

Beberapa hal yang harus tidak dilakukan setelah pemasangan ABD

  • Melebih-lebihkan bentuk mulut kita pada saat berbicara kepada anak, jika dilakukan anak akan lebih berkonsentrasi melihat bentuk mulut kita daripada mengoptimalkan sisa pendengarannya. Berbicara secara normal dengan menggunakan penekanan pada setiap katanya, dan juga berirama serta tidak terlalu cepat dalam pengucapannya.
  • Ekspresi pada wajah yang berlebihan
  • Menyengaja agar anak melihat bentuk bibir kita pada saat berbicara daripada menggunakan pendengarannya.
  • Menepuk atau menyetuh anak daripada memanggil namanya. Panggillah nama anak dari jarak yang dekat telinga untuk permulaan, jika dalam 2-3 tidak ada respon dia menoleh maka sentuhlah dia sambil menyebutkan namanya. Untuk mengajarkan kepada dia bahwa suara yang dia dengar tadi adalah untuk memanggil namanya.
  • Menggunakan bahasa tubuh yang dibuat-buat atau menggunakan bahasa isyarat. Anak akan merasa senang menggunakan bahasa isyarat karena cenderung lebih mudah dan tidak memerlukan konsentarsi yang penuh dalam memahami bahasa.

Sedikit demi sedikit dihindarkan untuk lebih mengembangkan kesadaran akan mendengar bagi anak.

Keikutsertaan orangtua dan profesional melihat perkembangan bicara anak setelah mereka belajar mendengar. Ada banyak faktor untuk mengembangkan kemampuan dengar anak.

  • Manajemen anak

anak dengan kebiasaan tak terkendali biasa tidak menggunakan sisa pendengarannya secara maksimal. Orangtua tidak menuruti anak dan harus menekankan kepada orangtua agar anak berusaha menggunakan pendengarannya.

  • Posisi

Orangtua harus menyadari jarak speaker dari sumber suara akan mempengaruhi pendengaran anak. Orangtua dianjurkan pada awal belajar mendengar untuk terus melakukan proses belajar mendengar pada saat berinteraksi sehari-hari secara natural.

  • Kondisi ABD

ada beberapa hal yang harus setiap hari dilakukan: Mengecek baterai, Memeriksa ear molds karena ear molds yang tidak pas akan membuat anak tidak nyaman dalam mendengar.

  • Menghindarkan suara yang mengganggu

Walaupun pada keadaan normal terdapat berbagai macam bunyi disekitar tetapi pada saat anak belajar mendengar usahakan suasana diruangan belajar nyaman dan tidak terdapat suara yang mengganggu.

  • Memberikan dukungan kepada anak untuk mendengar untuk pengembangangan bahasanya

Mengajarkan anak yang masih kecil dengan suara-suara binatang akan membantu dan anakpun senang melakukanya, serta bunyi kendaraan misalnya : aaaaa untuk pesawat terbang. pada kehidupan sehari-hari banyak hal menarik yang bisa dipakai untuk belajar mendengar.

  • Menghindari tes yang berlebihan

Orangtua sangat senang sekali jika anaknya dapat mendengar dan menoleh jika namanya dipanggil. Janganlah sering memanggil namanya untuk sekedar mengetes saja. Perlu diingat anak normalpun seringkali tidak memperhatikan bunyi pada sekitarnya pada saat mereka sedang melakukan aktivitas yang menyenangkan.

  • Melihat atau tanda petunjuk

Pada proses belajat mendengar, orangtua belajar untuk menghindari memberikan petunjuk secara visual yang tidak diperlukan, pada saat bersamaan selama berinteraksi anak melihat secara natural pada saat orang berbicara. Dalam hal ini anak menggabungkan mendengar dan melihat pada keadaan berinteraksi. Sama dengan anak normal

  • Mendengar sebagai dasar keterampilan berbicara

Pada saat anak mendengar, diawal kemampuan mendengar adalah mendeteksi adanya bunyi, setelah itu pada tahap selanjutnya membedakan bunyi dari jenis bunyi serta arah sumber bunyi, dan mengidentifikasikan bunyi bisa menunjukkan bunyi apakah yang anak dengar hingga memahami arti dari bunyi yang didengar menjadi sebuah bahasa.

Beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua dan anak di rumah setelah pemasangan ABD. Masih banyak hal yang bisa dipelajari dari buku Morag Clark yang akan coba disampaikan disini tetapi dengan berbagai keterbatasan yang ada.

BELAJAR ARTIKULASI

Posted Februari 1, 2008 by rozarumaisho
Categories: Uncategorized

Tidak semua anak tuna rungu memakai ABD dan kemampuan mendengar dengan ABD sendiri berbeda tergantung dari tingkat gangguan pendengaran dan latihan mendengar yang diiukuti. Untuk memperbaiki bicara anak perlu dilakukan latihan artikulasi dimana tidak semua sekolah memasukkan dalam salah satu mata pelajarannya. Pada latihan artikulasi anak belajar secara individu di ruangan khusus dengan satu orang guru artikulasi. Lama waktu belajar sekitar 20-30 menit setiap harinya. Setiap anakpun berbeda berdasarkan kemampuan intelejensinya. Pada buku Pembinaan Bahasa Anak Tuli dengan sistem 350 kata, terdapat cara untuk mengajar artikulasi. Bisa kita pakai untuk mengajarkan kepada anak kita di rumah sebagai kesinambungan dengan pelajaran yang di berikan di sekolah. Anak belajar tidak hanya di sekolah sebagai tanggung jawab guru, akan lebih baik jika di rumah pun belajar lebih mengeksplorasi kemampuan anak.

Bahan Pelajaran Artikulasi dari buku Pembinaan Bahasa anak Tuli :

Pada umumnya bagi anak tuna rungu suara ujaran vocal lebih mudah diucapkan daripada konsonan. Sebagai latihan pertama diberikan latihan senam mulut (mouth-training). Anak disuruh meniru mengucapkan vocal dasar berturut-turut, yaitu a/i/u/e/o berulang tanpa terputus. Vokal a yang paling mudah diucapkan sehingga diajarkan yang pertama kali. Untuk anak yang dapat mendengar mereka akan meniru dengan mengeluarkan suara a, bagi yang tidak di Bantu dengan menggetarkan pita suaranya. Tangan anak diletakkan pada leher kita untuk mengetahui bahwa ada getaran di situ. Setelah itu huruf vokal selanjutnya.

Untuk konsonan ada pembagian beberapa karakter berdasarkan asal keluarnya huruf

 - konsonan bilabial (p/b/m) merupakan konsonan bibir, cara melatihnya usahakanlah agar konsonan itu tempatnya berubah-ubah dari di muka-di tengah-di belakang

contoh : p papa apa map

b babi aba bab

m mama oma bom

- konsonan dental (t/d/n) seperti halnya bilabial, cara melatihnya pun dengan pola yang sama

 - konsonan langit-langit lembut (k,g,ng) konsonan bilabial dan dental cara melafalkannya dapat terlihat langsung oleh anak. Konsonan langit-langit lembut sukar dilihat, oleh karena itu perlu kita beri petunjukuntuk memudahkan anak dalam meniru mengucapkannya.

Mulai dari pembentukkan ng dengan mempergunakan m sebagai alat yang sudah dikenal. Selagi m diucapkan bukalah bibir dan rahang anak perlahan. Untuk g dan k agak sulit untuk mengatasinya biarkanlah sementara waktu sehingga k nya lancar di ucapkan.

Untuk menyuarakan g, berilah latihan vocal, konsonan, vocal berkali kali Contoh : a k a (a g a) Kaki kakak kaku Gigi gaga gugu Gigi tang nganga Walaupun telah belajar artikulasi belum dapat dijamin bahwa anak tentu betul mengucapkannya.

Perlu di ingat, bahwa anak tetap tuli/kurang pendengaran, Mereka tidak mempunyai control untuk ucapannya sendiri. Lebih lagi dalam membaca kalimat yang panjang, ucapannya dapat lebih kabur lagi. Maka satu-satunya jalan ialah, segala sesuatu harus selalu diulang. Makin banyak diulang, makin lebih baik.

RUMAH DI JUAL

Posted Januari 30, 2008 by rozarumaisho
Categories: Uncategorized

Ganti topik sementara :
DI JUAL RUMAH TYPE 36 SUDAH ADA PENGEMBANGAN
SETENGAH FINISHING DALAM ARTIAN LANTAI BELUM DI KERAMIK
LOKASI : JL. TAMAN GIRI, PERUMAHAN PURI SANTIKA NO. 6
BANJAR MUMBUL KELURAHAN MUMBUL KECAMATAN KUTA SELATAN BALI.
FASILITAS : PLN 1300 WATT, PDAM
SUASANA : LINGKUNGAN AMAN DAN ASRI
POSISI : 1,2 KM DARI JL RAYA BYPASS NUSA DUA DENGAN KETINGGIAN 35 M DARI ATAS PERMUKAAN LAUT.
JIKA BERMINAT SILAHKAN MENULIS DIKOLOM KOMENTAR DENGAN MENINGGALKAN NOMER TELP. NANTI KAMI YANG AKAN MENGHUBUNGI.

Terima kasih IBU

Posted Januari 17, 2008 by rozarumaisho
Categories: tulisan ringan

 Tidak perlu waktu khusus untuk mengucapkan terima kasih kepada ibu, walaupun telah ada tanggal 22 Desember sebagai hari ibu. Seringkali kita malah lupa atau mungkin melupakan untuk mengucapkan “terima kasih ibu”. Kata-kata sederhana tapi memiliki makna yang dalam akan apa yang telah ibu lakukan selama ini.

Beberapa tahun yang lalu, Desember 2002 saat pertamakali Roza di diagnosa mengalami gangguan pendengaran. Sulit sekali mencari tulisan tentang habilitasi anak tuna rungu. Alhamdulillah sekarang tidak lagi. Banyak sudah ibu yang menuliskan kisah dan pengalaman mereka, terima kasih ibu. Beberapa blog sempat di baca dan isinya pun bagus sekali memacu kita menjadi optimis dalam mendidik dan membesarkan anak-anak spesial yang dimiliki. Ibu Yefvie yang secara rinci menuliskan tentang terapi auditory dan habilitasi Read the rest of this post »

Auditory Verbal Therapy

Posted Januari 7, 2008 by rozarumaisho
Categories: habilitasi awal

Metode yang bagus diajarkan buat anak-anak tuna rungu. Disini sisa pendengaran dilatih untuk mengoptimalkannya. Di mulai daria awal sekali yaitu dari tahap pengenalan adanya bunyi hingga anak mampu mendeteksi bahkan meniru bunyi atau suara yang dia dengar. Dari sinilah perkembangan bahasanya dimulai. Di Indonesia sedikit sekali orang yang konsen akan AVT, ada Bu Rini Selang, Bu Sansan di Jakarta, Pak Gutomo dan Bu Sinta di Surabaya. Mereka orang tua yang mau membagi ilmu dan pengalaman yang dimiliki, karena sekarang anak mereka sudah berhasil dan terlihat tidak berbeda dengan anak normal. Secara kemampuan berpikir anak-anak itu tidak berbeda hanya perkembangan bahasa saja yg terlambat. Disinilah Pendengaran, bahasa, percakapan, kognisi dilatih dalam satu kesatuan sehingga semua jadi optimal. Read the rest of this post »

Sekolah Alternatif

Posted Januari 3, 2008 by rozarumaisho
Categories: Uncategorized

Pada saat anak masuk usia sekolah mulailah bingung mau di sekolahkan anak-anak kita. Untuk anak normal banyak sekolah pilihan dari yang biasa saja sampai sekolah dengan fasilitas plus plus. Pemerintah sendiri telah mencanangkan program inklusi tetapi belum semua sekolah di Indonesia yang siap baik dari sisi pendidiknya maupun fasilitas. Beberapa anak tuna rungu sudah dapat sekolah di sekolah normal dan bisa mengikuti pelajaran yang baik serta berhasil memiliki nilai akademik yang baik. Kecenderungan kita, keberhasilan anak itu diukur dari berapa banyak nilai yang didapat bukan apa yang bisa mereka dapatkan dan serap disekolah jadi bisa diaplikasikan. Standar kelulusan dari pemerintah yang tinggi pun cenderung membuat orang tua memaksa anak untuk bisa mendapat nilai yang tinggi,yah bahkan ada beberapa cara illegal yang terpaksa dilakukan agar anaknya bisa lulus. Kembali ke sekolah inklusi, agar menjadi sekolah inklusi yang baik diperlukan guru pendamping didalam kelas yang bisa membantu anak bisa memahami pelajaran di kelas. Pertanyaan saya sendiri, apa sekolah menyediakan guru pendamping atau orang tua sendiri yang membawa. Read the rest of this post »

Wujudkan Mimpi untuk Negeri

Posted Desember 10, 2007 by rozarumaisho
Categories: tulisan ringan

Sebuah tema pada acara Gebyar Difable Fair 2007 yang diadakan oleh HIMA PLB Universitas Yogyakarta, acara tahunan untuk memperingati Hari Penyandang cacat. Berbagai lomba diadakan untuk anak-anak penyandang cacat dimana sebagian orang memandang sebagai kelompok orang nomor dua, bahkan seringkali kekurangan yang ada malah dijadikan olok-olok. Lihat saja pada beberapa tayangan tv, biasanya yang berisi lawakan sringkali di bumbui dengan kata-kata bahkan mencontohkan gaya orang-orang yang cacat. Entah mereka ingin merasakan kecacatan yang sama atau hanya ingin keliatan luc yang sebenarnya tidak lucu. Read the rest of this post »